Si Tengah libur. Tapi, ada dua karcis yang tersimpan di tas saya : pertunjukan pentas dongeng di Fujisawa Kaikan. TK-nya yang menawarkan acara itu. Tentu saja tidak gratis : orang dewasa Y1.300, anak-anak Y800, bayi gratis. Ketika menerima surat pemberitahuan acara itu sekitar satu bulan yang lalu, kami dengan cepatnya memutuskan untuk tidak menghadirinya. Bukan kenapa-kenapa, malas saja, takut ribet, sambil bawa adiknya yang masih dua tahun, jam tidur siang pula. Tetapi, dalam pertemuan empat mata dengan guru kelasnya seminggu yang lalu, saya kembali ditawari lagi. Meski kesempatan mendaftar sudah habis, gurunya masih mau menerima kalau saya berubah pikiran. Pertamanya saya kira mereka akan diantar ke pulang pergi pakai bis sekolah. Saya pun mengiyakan. Belakangan, saat mau membayar, baru tahu kalau ternyata anaknya mesti datang sendiri, tentu didampingi orang tua atau dititipkan ke orang tua siswa lain. Langsung kecut hati saya. Takut tak bisa memenuhi "janji", entah itu karena cuaca buruk, anak-anak yang memang belum sembuh total, dan kemungkinan lainnya. Tetapi gurunya kemudian mengatakan bahwa tak masalah bila hari itu tak bisa datang. Uang pun akan kembali. Agak manyun juga dengan rayuan terakhirnya. Bukan masalah uang, ingin saya bilang begitu.
Agenda hari ini akan jadi sangat padat. 9.30 saya mesti ke dokter gigi. Sebenarnya janjian ini sudah sejak minggu lalu, tetapi karena ketika itu si Bungsu sedang diare, saya batalkan karena mesti ke dokter anak. Sebenarnya bisa saja saya kembali menelepon dokter gigi minta undur lagi, tetapi saya tak ingin merusak kepercayaan mereka. Kalau sudah terlanjur tercap mudah mengubah janji,
rekening bank emosi saya bakalan defisit, dan ini akan menyusahkan interaksi saya dengan pihak klinik gigi itu.
Selain dokter gigi dan pentas dongeng boneka, masih ada satu lagi : ke kumon. Ini pun juga rasanya tak bisa lagi saya tunda, karena sudah dua kali pertemuan saya tidak datang, demikian pula si Sulung yang memang diliburkan selama dua minggu karena masih dalam proses penyembuhan. Kalau saya tidak datang lagi, yah, lagi-lagi saya yakin rekening bank emosi saya terhadap tempat kursus itu juga bakalan defisit.
Maka, usai ke dokter gigi bersama si Bungsu --ia duduk tenang di pangkuan saya selama pemeriksaan--, saya pun pulang kembali menyiapkan si Tengah. Jam baru menunjukkan pukul 10.30. Si Tengah sudah menghabiskan sarapannya, dan sedang bermain
game di komputer saya, salah satu pilihan alternatif untuk membuat saya agak tenang meninggalkannya di rumah sendirian --sesuatu yang sebenarnya sangat terpaksa dan tak saya inginkan sering terjadi--.
Rumah masih berantakan seperti kapal pecah : meja makan masih hingar-bingar dengan piring-gelas kotor, tetesan kecap dan kuah ikan, lantai pun meriah dengan remah-remah di sana-sini. Kamar tidur pun masih belum berubah bentuk dengan saat bangun tidur, untungnya pakaian semi basah sudah tertata di jemuran sejak tadi malam. Sementara itu, PR Kumon juga menari-nari di kepala saya.
Tak hanya itu. Saya juga dipusingkan oleh cara terbaik mencapai lokasi pertunjukan itu : naik kereta, itu berarti saya mesti mendorong baby-car si Bungsu sejauh 1,5 km ke stasiun dan 1 km juga dari stasiun tujuan ke gedungnya. Sementara, si Bungsu sudah tak begitu suka berlama-lama di baby-carnya. Ini juga makan waktu lebih lama, karena berjalan kaki cukup panjang. Kalau naik sepeda, saya ngeri membonceng depan belakang dan mesti melewati wilayah pertokoan yang pada jam makan siang, jam 12 sampai jam 1, sangat ramai dengan pejalan kaki. Ada alternatif lain, menyusur sungai. Tetapi, saya belum pernah sekalipun melewati jalur sungai ini. Takut tersesat, tapi sepertinya masih lebih aman. Saya pun melihat peta, dan cukup yakinlah itu cara yang paling baik.
Saya sengaja berangkat lebih cepat : jam 11.15, mengantisipasi kemungkinan nyasar. Sebelum berangkat, saya suapi dulu si Tengah dan si Bungsu. Biar tak mesti lagi direpoti dengan urusan makan siang setibanya kami di lokasi. Sesudahnya, perlu waktu sekitar 15 menitan mengganti pakaian si Tengah dan menyiapkan kembali perlengkapan keluar si Bungsu. Saya juga menata makanan ringan : kerupuk, donat, gorengan kentang, segelas susu strawbery di atas meja makan, dan menempelkan satu surat di badan gelas bertuliskan, "Fatima, kue-kue ini untuk Fatima. Kalau sampai, telepon Mama ya. Jangan nonton TV, ya. ^ - ^." Sebenarnya ingin saya tambahkan di pesan itu, "Jangan lupa salat, ya." Tapi saya pikir bakalan membosankan rasanya membaca terlalu banyak jangan. Sekalian, saya ingin mengetahui, apakah si Sulung bisa mandiri mengingat urusan yang satu itu?
Di pintu luar juga saya tempelkan surat, "Kunci ada di keranjang. Dibungkus tisu." Sebenarnya ini sudah saya beritahukan sejak pagi tadi, tapi khawatir saja dia lupa. Optimis saja, di sekitar sini tak ada orang yang bisa mengerti bahasa Indonesia. Meskipun tak bisa terus begini, mesti ada cara lain yang disiapkan untuk menghentikan pemberitahuan yang ditempel di pintu itu.
Persiapan pun selesai. Si Bungsu di boncengan depan, si Tengah di boncengan belakang. Si Bungsu lengkap memakai sarung tangan, topi dan jaket musim dingin, si Tengah emoh pakai sarung tangan. Tak apalah, kalaupun dingin, dia bisa memasukkan tangannya di jaket saya. Mulailah saya mengayuh.
Udara tidaklah terlalu dingin. Saya sengaja tidak memakai sarung tangan, untuk memudahkan mengemudikan arah sepeda dan menjaga penumpang depan belakang. Saat meluncur di jalanan yang menurun, si Tengah berteriak seperti mengucapkan kata, "Ihuuuyy...". "Bagaimana, senang, tidak bersepeda seperti ini?""Ya, senang sekali,"jawab penumpang belakang, "hanya satu yang saya takutkan," lanjutnya."Apa?" tanyaku sambil di kepala sudah mempersiapkan ancang-ancang menjawabnya. "Perjalanan ini berakhir karena sudah sampai tujuan."Gubrak. Anak lima tahun ini bisa saja membuat kecele. Tentu saja, ia tak bermaksud bermain-main. Sementara itu, dari samping saya lihat mata si Bungsu sudah semakin meredup. Tak lama kemudian mulai terantuk-antuk. Wah, bahaya ini kalau si Bungsu tidur, saya tak bisa memegangi kepalanya sambil memegang setir sepeda.
"Didi..., jangan tidur sayang, coba lihat! Hey, di sungai itu banyak bebek sedang mandi. Hey, lihat di depan itu, ada anjing pudel lucu sekali. Hey, lihat, itu ada mobil warna putih!" Saya terus saja mengajaknya berbincang hingga matanya kembali bersinar. Akhirnya, meski sempat meraba-raba arah, dan satu-dua kali sadar diri menjauh dari tujuan, berhenti sebentar menanyakan arah pada pejalan kaki yang saya yakin penduduk sekitar situ karena membawa serta seekor anjing tanpa membawa tas apapun, akhirnya pada jam 12.33 tibalah kami.
Sudah banyak sekali orang berkumpul di halaman depan gedung pertunjukan itu. Olala, anak-anak semua pakai seragam sekolah! Si Tengah jadi ketakutan. Saya meyakinkannya tak masalah, karena toh dia memakai kemeja putih dan sweater biru tua, persis warna seragam sekolahnya. Yang kurang cuma dasi merahnya saja. Apa boleh buat. Saya sama sekali tidak tahu mesti pakai seragam, meskipun memang tadi sudah ada pikiran begitu, agar tiap anak segera diketahui sebagai anggota TK tersebut hanya dari pakaiannya saja.
Mizusina Sensei tampak melambaikan tangan. Saya pun minta maaf soal pakaian si Tengah. Sama sekali tak masalah kata Sensei. Ah, Sensei sudah mengerti soal keterbatasan saya membaca kanji-kanji surat pemberitahuan. Maafkan saya, saya akan terus berusaha mengurangi masalah itu.
Pertunjukan berlangsung meriah, si Tengah dan si Sulung sangat menikmati. Perjalanan pulang pun tak mengalami satupun hambatan. Ketika baru mau mengayuh, HP saya berdering. Suara si Sulung di seberang sana. "Mama, terima kasih sudah disiapkan kue-kue. Mama, saya tidak nonton TV, tapi, nanti malam boleh ya, nonton Doraemon." "Ya, oke. Sebentar lagi Mama sampai, 30 menit lagi kira-kira. Hati-hati ya. Tak usah bukakan pintu kalau ada yang membunyikan bel." Lagi-lagi saya mesti mencari akal untuk menjaga si Bungsu, lebih-lebih si Tengah, untuk tidak sampai tertidur di perjalanan. Untunglah saya membawa beberapa makanan kecil, salah satunya Toppo, biskuit panjang seperti pensil berisi cokelat. Tangan mereka saya kira tidaklah kotor, karena dari tadi memang tak main pegang-pegang sesuatu. Si Tengah memegang satu bungkus kemasan Toppo, sambil kami melaju. Tiap kali Toppo di tangan si Bungsu habis, saya berhenti dan meminta stok tambahan dari penumpang belakang.
Sampai di rumah sudah jam empat. Si Sulung ternyata sudah salat, dan... : sudah mandi!
"Hebat sekali anak Mama ini, tak diberitahu pun sudah tahu apa yang perlu dikerjakan," saya menempelkan dua telapak tangan ke pipi, kalau "menerbangkannya" ke atas : artinya melayang, bahasa tubuh isyarat yang sering saya pakai ke anak-anak untuk memberitahu saya sangat gembira dengan prestasi mereka.
Usai salat, saya kejar lagi menyelesaikan PR Kumon. Demikian pula si Sulung. Sambil membaca deretan huruf-huruf keriting, saya disibukkan pula dengan pikiran : bagaimana cara saya ke Kumon? Kalau saya berangkat, tak mungkin tak membawa si Bungsu. Sudah seharian dia tidak tidur, sebentar lagi dia tentu mengantuk dan rewel. Berbahaya ditinggal hanya bersama dua kakaknya. Tapi kalau saya bawa, badan sudah terasa mau patah, sementara tempat Kumon itu berada di atas bukit, jalannya cukup terjal mendaki sejauh sekitar satu kilometer. Bersepeda sambil bonceng si Bungsu? Lebih tak masuk akal lagi, mana kuat. Bagaimana dengan si Bapak? Ohya, hari ini beliau ke Tokyo, jadi utusan kantor untuk melakukan perekrutan calon pegawai baru di mantan universitasnya dulu. Barangkali bisa pulang cepat. HP pun bekerja. Hasilnya : diajak melihat presentasi adik kelas oleh prof. Ya, sudah lama tak jumpa professornya yang baik itu, tentu saja sayang cepat-cepat pulang. Akhirnya saya minta si Sulung yang berangkat. Saya tuliskan sepucuk surat untuk gurunya, minta maaf sudah dua kali tidak hadir karena anggota keluarga bergantian sakit, dan PR saya dari 50 lembar hanya 20 yang berhasil saya selesaikan.
Jam sudah menunjukkan pukul 5.40 saat si Sulung siap berangkat. Topi dan jaket winter, syal, dan HP saya melengkapinya. Saya memintanya menelepon ke rumah kalau tak ada teman seperjalanan untuk pulang. Saya tetap tak berani membiarkannya berjalan sendirian di kegelapan malam.
"Carilah teman untuk bersama-sama pulang. Kalau bisa begitu, Mama akan senang sekali. Tapi kalau tidak ada, teleponlah ke rumah, supaya Mama jemput."
"Aaah, kalau begitu, saya pulang saja sendiri, daripada Mama repot."
"Mama lebih repot kalau ada apa-apa denganmu. Mama lebih suka capek daripada kamu pulang sendiri."
"Oke deh Ma."
Usai bersayonara dan mengunci pintu, segeralah saya salat magrib. Si Bungsu sudah mulai rewel, minta ganti popok. Usai salat, saya penuhi hajatnya itu. Saat ganti baju dan memakai popok, ia sudah minta pakai selimut juga. "Nanti tidurnya, makan malam dulu." Khawatir dia yang baru mulai sembuh dari diare, jadi sakit lagi karena tadi di tempat pertunjukan ada anak di dekat kami yang batuk-batuk dan bersin-bersin. Sementara dia juga kurang istirahat, sama sekali tidak pernah tidur sejak bangun jam empat subuh tadi.
Si Bungsu hanya bisa makan empat suap. Setelahnya betul-betul menolak dan minta gendong. Saya menyerah, sebelum dia ketiduran saya sikat dulu giginya. Si Tengah melanjutkan makan malamnya sendiri, tetapi sikat giginya pun sudah saya sediakan di samping piringnya, lengkap dengan pasta giginya.
Usai sikat gigi dengan segala triknya : berakting seolah-olah ada banyak binatang berlarian di antara gigi-gigi mungil itu : wang-wang (anjing), hebi (ular), burung, anakonda..."Hey, burung, jangan lari ke geraham belakang itu ya. Jangan suka ganggu gigi kecil ini. Pergilah ke koen sana, bersama teman-temanmu. Hora, lihat di sini, ada donat sembunyi. Awas ya donat, tidak bisa rusakin gigi Dede." Si Bungsu sangat senang dengan upacara sikat gigi dengan "permainan drama" seperti itu, senyum-senyum dan tawa tertahan dia membayangkan giginya jadi kebun binatang.Usai kumur-kumur, si Bungsu pun minta gendong, dan hanya semenit-dua menit, lelaplah ia. Saya pun bergegas membawanya ke kamar, merebahkan dan menyelimutinya. Karpet penghangat saya hidupkan.
Jam sudah menunjukkan pukul 6.50. 10 menit lagi Kumon selesai. Saya segera menelepon HP saya yang dibawa si Sulung, hendak mengatakan bahwa saya akan menjemputnya. Saya begitu yakin si Bungsu akan terus lelap, paling tidak dalam satu jam. Kasihan si Sulung, dia juga masih dalam proses sembuh, dan tadi memang dia berharap saya menjemputnya dengan sepeda, ingin merasakan dibonceng di jalanan menurun pulangnya.
Telepon tidak diangkat. Saya takut menelepon lagi. Siapa tahu si Sulung sedang berjalan kaki pulang, dan dia memang tak percaya diri berbicara di HP di tempat umum sendirian. Benarlah, semenit kemudian, pintu depan berbunyi, hendak di buka. Si Sulung! Oh, selesailah urusan keluar rumah hari ini. Tinggal menyelesaikan makan malam si Sulung, menyikat gigi si Tengah, membereskan rumah, dan itu..., PR Kumon oleh-oleh dari sensei yang dititipkan lewat si Sulung, semestinya bisa saya selesaikan barang lima lembar sebelum merebahkan diri.