Friday, December 21, 2007

Ilham Pagi

Ini hari pertama si Tengah libur musim dingin. Satu kewajiban pagi berkurang satu : mengantar si Tengah ke halte bis. Kewajiban yang kedengarannya sederhana dan gampang dilaksanakan. Tapi sebenarnya, tidak mudah bagi saya, dan juga saya kira, bagi kebanyakan orang.

Untuk mengantar si Tengah, saya tentu mesti dalam kondisi siap untuk keluar rumah. Demikian pula adiknya, si Bungsu, yang berusia tiga tahun. Pekerjaan rumah juga mesti terpotong di tengah jalan. Kadang belum selesai cuci piring, belum tuntas menjemur, belum menyapu, sudah mesti keluar rumah.


Acara keluar rumah tiap hari ini cukup melelahkan buat saya, ibu tiga anak tanpa pembantu. Lelahnya karena mental saya mesti tetap 'fresh' untuk melanjutkan pekerjaan demi pekerjaan yang hampir sepanjang hari antri di tiap jam.


Tapi, lama-lama memang jadi biasa. Dan saya pikir, inilah hidup : bekerja. Si Tengah libur pun, saya tetap ingin mempertahankan ritme ini. Ritme yang sudah semestinya dilewati orang cukup umur seperti saya. We're not A-B-G anymore. Kita adalah orang dewasa, yang mesti mampu memikul tanggung jawab.


Ya, saya dapat kata kunci baru hari ini soal makna dewasa : kemampuan mengendalikan diri mengikuti tuntan prioritas lingkungan. Bukan melulu menuruti kehendak hati, bebas berbuat apa saja seperti anak kecil.

Thursday, December 20, 2007

Idul Adha 2007


Idul Adha tahun ini jatuh di hari Kamis, yang berarti bukan hari libur nasional di Jepang. Sebenarnya, untuk suami, libur nasional ada di hari Senin sampai Jumat, tetap saja tidak berpengaruh bagi kami. Ya, kantor suami tidak libur kecuali Sabtu-Minggu, meski di kalender warna tanggalnya merah.

Sebelum subuh tadi, saya sangat ingin mengajak anak-anak ke tempat salat. Suami memang dari tadi malam sudah bilang mau berangkat, sudah ambil cuti setengah hari. Usai salat di Tokyo, katanya, bisa langsung kembali ke Fujiswa untuk masuk kantor. Saya pikir, apa salahnya anak-anak dan saya juga ikut, toh ini kesempatan yang hanya setahun sekali. Maka, bergegaslah saya menyiapkan pakaian, membangunkan dan membantu mereka bersiap-siap, dari ganti pakaian tidur ke pakaian keluar semi resmi, sampai ikat rambut dan memakai kaos kaki.

Hampir tuntas bersiap-siap di kamar, suami yang baru saja usai mandi, ikut bergabung.

"Heee, jadi berangkat?"
"Iyah, liburin aja anak-anak. Ntar telepon sekolahnya di perjalanan."
"Heee..., daijoubu?"
"Gak papa kan?"
"Gak papa sih, tapi nanti Abi gak bisa cuti seharian, mesti masuk kantor."
"Gak bisa cuti satu hari ya Bi..."
"Iyah... Rabu depan giliran Abi presentasi bulanan."
"Ya gak papa, sama-sama ajah pulang abis salat."
"Kasihan anak-anak, capek, jauh... habis salat gak bisa main, langsung pulang,"kata suami.

Tiba-tiba saya jadi sadar, betapa penuhnya kereta di rush hour pagi-pagi begini. Kereta menuju Tokyo, Tookaido Line, tak pernah rasanya bisa duduk, padahal jarak tempuh sekitar satu jam. Kalau berdiri saja sih masih tidak masalah, tapi kalau sambil tergencet-gencet, sesak nafas, tertarik-tarik, bawa tiga anak, waaa....

"Ya sudahlah. Tidak usah berangkat," kata saya, yang langsung disambut dengan wajah kecewa anak-anak yang sudah rapi berpakaian.

"Maafkan Mama. Tadi Mama pikir bisa berangkat subuh-subuh sebelum kereta penuh. Tapi kayaknya sudah tidak terkejar, kita akan terperangkap di rush hours."

"Ya, Mama.... Udah lama nih gak main di Tokyo," masih juga anak-anak sulit menerima.

"Kita gak punya kesempatan main di sana, kalaupun pergi. Atau begini saja. Nanti siang, kan cepat pulang. Kita ke museum sains saja di Shounandai," saya mencoba merayu.

"Heee, bisa, Ma? Abi gak ikut loh..." kata si Sulung.

"Kalau cuma ke Shounandai, bisa kok insya Allah. Asal kalian mau ikut kata Mama."

"Asyik... bisa main alat musik macam-macam," seru si Tengah.

Siang hari, saya sempat agak panik lagi mengantisipasi kemungkinan datangnya teman-teman si Tengah bermain di rumah, yang tentu saja disertai pula orang tuanya. Jam sepuluh pagi mesti pergi belanja macam-macam, segera pulang untuk masak dan membereskan rumah. Cucian yang sejak tadi pagi saya letakkan di kamar atas, belum juga sempat saya jemur. Waduh, padahal matahari bersinar begitu teriknya. Rasanya kesal sekali tidak sempat mencuci.

Saya berhasil membuat gorengan tahu isi ayam cincang, bawang bombay, bawang putih, kol dan ikan teri kecil, sebelum si Tengah pulang. Gorengan itu masih juga kesampaian saya pak dalam kotak-kotak makanan kecil, dan membagikannya ke ibu-ibu orang tua murid teman satu bisnya Fadhl. Ya, ini hari terakhir sekolah di tahun ini. Saya mesti menyampaikan sedikit, ala kadarnya, ucapan terima kasih karena sudah dibantu ini dan itu dalam setahun ini. Begini memang kebiasaan orang Jepang. Salah satu ibu-ibu itu menghabiskan gorengan yang saya berikan sambil menunggu bis sekolah datang. Lapar katanya, dan gorengan itu sangat menggoda. Hahaha... lucu sekali ibunya Kurumi itu.

Di rumah, saat 'menuntun' si Tengah dan si Bungsu menghabiskan makan siangnya, sementara si Sulung bermain recorder, saya betul-betul ingin membatalkan acara ke Shounandai. Sebabnya, apa lagi kalau bukan jemuran semi basah yang masih menumpuk di kamar atas. Tapi, saya tak tega juga mengecewakan anak-anak yang punya hati itu, demi jemuran yang tak punya perasaan. Memang salah saya. Mestinya saya sudah sadar setelah kejadian seperti ini berulang dan berulang : mencuci dan menjemur mesti dituntaskan pada malam hari. Sekali lagi, malam hari. Ya, mudah-mudahan besok-besok saya berhasil menaati 'pengetahuan' baru ini.

Jadi ya, begitulah. Hari ini, untuk mengisi hari gembira ini, kami jadi juga bermain-main di Kodomo-kan, Shounandai. Sebuah gedung yang isinya koleksi alat-alat musik dan sains sederhana dari seluruh dunia. Perjalanan kami tempuh dengan dua macam kendaraan : sepeda dan kereta. Dari rumah ke Fujisawa Hommachi Stasiun saya membonceng si Bungsu di depan, dan si Tengah di belakang, sementara si Sulung naik sepedanya sendiri. Dari stasiun Fujisawa Hommachi, kami naik kereta berjarak tiga stasiun, ke Shounandai. Anak-anak pun sudah saya minta agar ikut kata saya bila sudah habis waktunya bermain, karena sepulang dari sana, mesti berangkat karate lagi. Tiba di rumah jam 4.30, untunglah saya sudah menyeterika pakaian karate mereka sejak tadi subuh. Masih sempat minum teh hangat dan makan roti, sebelum mereka melambaikan tangan dalam seragam putih-putihnya, berikat pinggang sabuk biru, dan dihangatkan jaket winter yang masih pula dilengkapi topi, syal dan kaos tangan.

Wednesday, December 19, 2007

Reuni

Dua hari terakhir ini saya agak disibukkan dengan acara reuni teman-teman sekelas SMP, meski sebatas hanya di dunia maya. Satu hal yang ingin saya rekam dari aktifitas ini adalah bagaimana pertalian pertemanan belasan tahun yang lalu, ternyata tetap bisa bertahan dan menjadi sesuatu yang manis untuk diuntai kembali. Kami menjadi seperti anak-anak lagi, padahal tak sedikit dari kami yang sudah memiliki anak-anak sendiri, alias sudah menjadi "orang tua". Ya, "orang tua". Sebuah sebutan yang pernah membuat anak tengah saya hampir menangis. Saya menyebut diri sendiri dan suami dengan sebutan itu, dan dia tidak bisa menerima bahwa ibu bapaknya sudah menjadi orang YANG SUDAH tua. Jangan sebut begitu, katanya, rasanya Mama dan Bapak sudah jadi kakek dan nenek-nenek. Yah, ia memang besar bukan di lingkungan yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, dan karenanya, tidak jarang ada salah pengertian untuk beberapa ungkapan khas yang memang jarang ia dengar apalagi baca.

Hal lain yang perlu saya catat di sini adalah, saat reunian, ternyata tetap perlu mengingat bahwa kawan lama kita itu mungkin sekali sudah bukan kawan lama yang sama dengan yang kita kenal dulu. Terkadang saya merasa kelewatan dan bahkan merasa kehilangan "link" dengan gaya berbicara satu sama lain. Karenanya, tanpa sadar, saya sering memilih menahan diri dan membaca situasi dulu, jangan sampai saya melukai atau membuat lawan bicara merasa tidak enak karena saya salah menilainya.

Bagaimanapun, reunian setelah sekian belas tahun lewat tak saling kontak, rasanya seperti ajaib. Waktu begitu cepat berlalu. Banyak hal yang rasanya ingin kami ubah ceritanya. "Pertemuan" sering terisi tema-tema yang secara logika, bodoh untuk dibahas kembali, tak berguna diulas panjang lebar lagi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, masih juga didiskusikan seberapa keras butir-butir berasnya atau berapa banyak tadi air dicampurkan kedalamnya. Sounds terrible, to be honest.

Wednesday, February 28, 2007

Bukan Bayi Lagi

Dua tahun empat bulan. Didi-chan sudah cukup peka menangkap kebiasaan orang di sekitarnya. Bukan anak bayi lagi yang bisa ditenangkan dengan permainan kata. Bila dijanjikan sesuatu, ia akan mengingatnya, meskipun sudah lewat sepuluh jam.

Mama membawa kantongan plastik bekas di tangan. Rencananya mau Mama lipat segitiga. Tapi gorden ruang keluarga paling depan itu masih juga tertutup, pengap rasanya. Mama berjalan ke gorden, melewati Si bungsu yang berdiri tepat di samping gorden, menatap serius acara anak-anak Okaasan To Isshou di televisi. Tak Mama sangka, ia menyadari Mama membawa kantongan plastik.

"Buang apa, buang apa?"

Awalnya Mama tak mengerti arah pertanyaannya. Cuekin. Buka gorden.

"Buang apa, Ma?"tanyanya lagi.

Oh. Ternyata ia ingat kebiasaan Mama membawa kantong plastik, kadang lewat "jendela" raksasa yang bisa sekaligus merangkap pintu itu, ke pekarangan memunguti kotoran.

"Tidak, Mama tidak mau buang apa-apa."

"Lipat-lipat saja, Ma?"Ups. Maksud Mama ketangkap olehnya. Mengejutkan, anak ini bisa menebak.

---

Makan siang. "Ada bawang!" kata si Bungsu. Biasanya dia suka saja makan bawang tumis, kali ini dia meminta saya memakannya. "Mama makan..." Ia menaruhnya di piring Mama. Mama ambil, mau masukkan ke mulut, tapi terjatuh. Ah, biar saja dulu, nanti baru diambil. Tapi sayangnya, saya tak melakukan gerakan mengunyah. Si Bungsu segera sadar : saya tak memakan bawang itu. Dia langsung turun dari kursi, dan menunjuk kaki saya : "Ma, bawangnya jatuh!"

---Mama lagi menggoreng. Bunyi hujan yang jatuh di atap mengingatkan Mama pada perkiraan cuaca kemarin : hujan deras seharian. Apakah perkiraan itu tak berubah? Mereda, atau semakin gawat? Tak ada kereta yang berhenti? Bagaimana anak-anak dan bapaknya beraktifitas di luar rumah hari ini? Hanya si Bungsu yang ada di dekat Mama. Televisi ingin Mama nyalakan, tapi tanggung dengan gorengan. Ah, coba saja minta tolong si Bungsu.

"Didi, tolong nyalakan televisi."
"Kenapa Ma, mau lihat jam?" (hahaha, dia tahu kebiasaan Mamanya kalau mau lihat jam yang pas, nyalain tv?)
"Gak, bukan jam, tenki (prakiraan cuaca)"
"Aaaah, tenki... muzukashiii!!" (kalau prakiraan cuaca, susah itu).

Maksud si Bungsu, kalau mau lihat jam, itu mah gampang. Nyalain ajah tvnya, semua channel pasti memasang jam di layar. Lain dengan prakiraan cuaca, mesti dicari-cari dengan mengganti-ganti channel. Karenanya bagi si Bungsu susah.

============

Mama lagi sibuk siapkan sarapan.
"Mama... Mama... ganti pampes..."
"Kenapa? B-A-B?"
"Gak kok!"
Mama periksa, betul, gak B-A-B, cuma kencing. Nanti sajalah..., usai membereskan bento.

"Mama... Mama... ganti pampes..."
"Nanti saja."
"Kenapa nanti?"
"Gak ada pampers di sini, belum ambil, ada di atas."
Sunyi. Didi diam. Mama teruskan sibuk-sibuk di dapur. Tak lama kemudian :

"Mama... Mama... ganti pampes..."
"Mama bilang, nanti."
"Kenapa nanti?"
"Gak ada pampers di sini."
"Ini, ada loh!" kata si Bungsu, sambil mengacungkan popok di tangannya.

Ow ow, dia naik ke kamar sendiri, membuka lemari, mengambil satu, lalu turun ke bawah lagi... So Mama, no more "nanti".

Empati


"Mama masukkan satu butir jeruk ke dalam kresek bento, ya? Di luar kotak bentonya."

"Erm..., kenapa, Ma? Biasanya kan cukup beberapa potong saja, gak perlu satu butir, dan ditaruhnya sekalian di dalam kotak bentonya, biar saya gampang makannya."

"Soalnya Mama juga masukkan agar-agar di dalam kotak bento, jadinya kotak bentonya sudah penuh sekali. Tidak ada buahnya..."
"Agar-agar?"
"Ya, agar-agar, kamu suka, kan?"
"Erm... gak perlu sih Ma... dibentoin agar-agar segala..."
"Kenapa? Kamu kan suka sekali."
"Erm... abis teman-teman jadi ngiler... selalu bilang, 'Enaknya... enaknya...' "
"Oh..."

Pada detik itu, saya ingin sekali menjawab, "Bukankah kamu juga sering ngiler lihat makanan yang dihidangkan sekolah untuk teman-temanmu?" Rasa-rasanya saya mendengar lagi di telinga saya, perkataan yang sering diucapkan si Sulung sepulang sekolah, "Mama, tadi di sekolah teman-teman makan roti selai cokelat, enak sekali kayaknya..." "Mama, bisa gak buat reitomikan..., tadi di sekolah..." Tapi entah sebab apa, perkataan itu tertahan. Saya diam sejenak.

Bila saja saya mengatakan bahwa tidak masalah teman-teman Si Sulung jadi ngiler lihat bento Si Sulung, karena ia pun juga sama..., maka saya mematikan kepekaan berempati yang sedang mulai tumbuh di dalam hati anak delapan tahun itu dan mendidiknya menjadi orang yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, atau istilah sederhananya, egois.

"Iya yah... Kasihan teman-teman..., lebih baik tidak usah. Kalau begitu, agar-agarnya Mama keluarkan dan ganti dengan beberapa potong jeruk, ya..."
"Ok, Ma."

Anak Mama, tumbuhlah jadi manusia yang peka melihat dan mendengar sekitar.

Friday, February 16, 2007

Hari yang Sibuk 2

Si Tengah libur. Tapi, ada dua karcis yang tersimpan di tas saya : pertunjukan pentas dongeng di Fujisawa Kaikan. TK-nya yang menawarkan acara itu. Tentu saja tidak gratis : orang dewasa Y1.300, anak-anak Y800, bayi gratis. Ketika menerima surat pemberitahuan acara itu sekitar satu bulan yang lalu, kami dengan cepatnya memutuskan untuk tidak menghadirinya. Bukan kenapa-kenapa, malas saja, takut ribet, sambil bawa adiknya yang masih dua tahun, jam tidur siang pula. Tetapi, dalam pertemuan empat mata dengan guru kelasnya seminggu yang lalu, saya kembali ditawari lagi. Meski kesempatan mendaftar sudah habis, gurunya masih mau menerima kalau saya berubah pikiran. Pertamanya saya kira mereka akan diantar ke pulang pergi pakai bis sekolah. Saya pun mengiyakan. Belakangan, saat mau membayar, baru tahu kalau ternyata anaknya mesti datang sendiri, tentu didampingi orang tua atau dititipkan ke orang tua siswa lain. Langsung kecut hati saya. Takut tak bisa memenuhi "janji", entah itu karena cuaca buruk, anak-anak yang memang belum sembuh total, dan kemungkinan lainnya. Tetapi gurunya kemudian mengatakan bahwa tak masalah bila hari itu tak bisa datang. Uang pun akan kembali. Agak manyun juga dengan rayuan terakhirnya. Bukan masalah uang, ingin saya bilang begitu.

Agenda hari ini akan jadi sangat padat. 9.30 saya mesti ke dokter gigi. Sebenarnya janjian ini sudah sejak minggu lalu, tetapi karena ketika itu si Bungsu sedang diare, saya batalkan karena mesti ke dokter anak. Sebenarnya bisa saja saya kembali menelepon dokter gigi minta undur lagi, tetapi saya tak ingin merusak kepercayaan mereka. Kalau sudah terlanjur tercap mudah mengubah janji, rekening bank emosi saya bakalan defisit, dan ini akan menyusahkan interaksi saya dengan pihak klinik gigi itu.

Selain dokter gigi dan pentas dongeng boneka, masih ada satu lagi : ke kumon. Ini pun juga rasanya tak bisa lagi saya tunda, karena sudah dua kali pertemuan saya tidak datang, demikian pula si Sulung yang memang diliburkan selama dua minggu karena masih dalam proses penyembuhan. Kalau saya tidak datang lagi, yah, lagi-lagi saya yakin rekening bank emosi saya terhadap tempat kursus itu juga bakalan defisit.

Maka, usai ke dokter gigi bersama si Bungsu --ia duduk tenang di pangkuan saya selama pemeriksaan--, saya pun pulang kembali menyiapkan si Tengah. Jam baru menunjukkan pukul 10.30. Si Tengah sudah menghabiskan sarapannya, dan sedang bermain game di komputer saya, salah satu pilihan alternatif untuk membuat saya agak tenang meninggalkannya di rumah sendirian --sesuatu yang sebenarnya sangat terpaksa dan tak saya inginkan sering terjadi--.
Rumah masih berantakan seperti kapal pecah : meja makan masih hingar-bingar dengan piring-gelas kotor, tetesan kecap dan kuah ikan, lantai pun meriah dengan remah-remah di sana-sini. Kamar tidur pun masih belum berubah bentuk dengan saat bangun tidur, untungnya pakaian semi basah sudah tertata di jemuran sejak tadi malam. Sementara itu, PR Kumon juga menari-nari di kepala saya.

Tak hanya itu. Saya juga dipusingkan oleh cara terbaik mencapai lokasi pertunjukan itu : naik kereta, itu berarti saya mesti mendorong baby-car si Bungsu sejauh 1,5 km ke stasiun dan 1 km juga dari stasiun tujuan ke gedungnya. Sementara, si Bungsu sudah tak begitu suka berlama-lama di baby-carnya. Ini juga makan waktu lebih lama, karena berjalan kaki cukup panjang. Kalau naik sepeda, saya ngeri membonceng depan belakang dan mesti melewati wilayah pertokoan yang pada jam makan siang, jam 12 sampai jam 1, sangat ramai dengan pejalan kaki. Ada alternatif lain, menyusur sungai. Tetapi, saya belum pernah sekalipun melewati jalur sungai ini. Takut tersesat, tapi sepertinya masih lebih aman. Saya pun melihat peta, dan cukup yakinlah itu cara yang paling baik.

Saya sengaja berangkat lebih cepat : jam 11.15, mengantisipasi kemungkinan nyasar. Sebelum berangkat, saya suapi dulu si Tengah dan si Bungsu. Biar tak mesti lagi direpoti dengan urusan makan siang setibanya kami di lokasi. Sesudahnya, perlu waktu sekitar 15 menitan mengganti pakaian si Tengah dan menyiapkan kembali perlengkapan keluar si Bungsu. Saya juga menata makanan ringan : kerupuk, donat, gorengan kentang, segelas susu strawbery di atas meja makan, dan menempelkan satu surat di badan gelas bertuliskan, "Fatima, kue-kue ini untuk Fatima. Kalau sampai, telepon Mama ya. Jangan nonton TV, ya. ^ - ^." Sebenarnya ingin saya tambahkan di pesan itu, "Jangan lupa salat, ya." Tapi saya pikir bakalan membosankan rasanya membaca terlalu banyak jangan. Sekalian, saya ingin mengetahui, apakah si Sulung bisa mandiri mengingat urusan yang satu itu?

Di pintu luar juga saya tempelkan surat, "Kunci ada di keranjang. Dibungkus tisu." Sebenarnya ini sudah saya beritahukan sejak pagi tadi, tapi khawatir saja dia lupa. Optimis saja, di sekitar sini tak ada orang yang bisa mengerti bahasa Indonesia. Meskipun tak bisa terus begini, mesti ada cara lain yang disiapkan untuk menghentikan pemberitahuan yang ditempel di pintu itu.
Persiapan pun selesai. Si Bungsu di boncengan depan, si Tengah di boncengan belakang. Si Bungsu lengkap memakai sarung tangan, topi dan jaket musim dingin, si Tengah emoh pakai sarung tangan. Tak apalah, kalaupun dingin, dia bisa memasukkan tangannya di jaket saya. Mulailah saya mengayuh.

Udara tidaklah terlalu dingin. Saya sengaja tidak memakai sarung tangan, untuk memudahkan mengemudikan arah sepeda dan menjaga penumpang depan belakang. Saat meluncur di jalanan yang menurun, si Tengah berteriak seperti mengucapkan kata, "Ihuuuyy...". "Bagaimana, senang, tidak bersepeda seperti ini?""Ya, senang sekali,"jawab penumpang belakang, "hanya satu yang saya takutkan," lanjutnya."Apa?" tanyaku sambil di kepala sudah mempersiapkan ancang-ancang menjawabnya. "Perjalanan ini berakhir karena sudah sampai tujuan."Gubrak. Anak lima tahun ini bisa saja membuat kecele. Tentu saja, ia tak bermaksud bermain-main. Sementara itu, dari samping saya lihat mata si Bungsu sudah semakin meredup. Tak lama kemudian mulai terantuk-antuk. Wah, bahaya ini kalau si Bungsu tidur, saya tak bisa memegangi kepalanya sambil memegang setir sepeda.

"Didi..., jangan tidur sayang, coba lihat! Hey, di sungai itu banyak bebek sedang mandi. Hey, lihat di depan itu, ada anjing pudel lucu sekali. Hey, lihat, itu ada mobil warna putih!" Saya terus saja mengajaknya berbincang hingga matanya kembali bersinar. Akhirnya, meski sempat meraba-raba arah, dan satu-dua kali sadar diri menjauh dari tujuan, berhenti sebentar menanyakan arah pada pejalan kaki yang saya yakin penduduk sekitar situ karena membawa serta seekor anjing tanpa membawa tas apapun, akhirnya pada jam 12.33 tibalah kami.

Sudah banyak sekali orang berkumpul di halaman depan gedung pertunjukan itu. Olala, anak-anak semua pakai seragam sekolah! Si Tengah jadi ketakutan. Saya meyakinkannya tak masalah, karena toh dia memakai kemeja putih dan sweater biru tua, persis warna seragam sekolahnya. Yang kurang cuma dasi merahnya saja. Apa boleh buat. Saya sama sekali tidak tahu mesti pakai seragam, meskipun memang tadi sudah ada pikiran begitu, agar tiap anak segera diketahui sebagai anggota TK tersebut hanya dari pakaiannya saja.

Mizusina Sensei tampak melambaikan tangan. Saya pun minta maaf soal pakaian si Tengah. Sama sekali tak masalah kata Sensei. Ah, Sensei sudah mengerti soal keterbatasan saya membaca kanji-kanji surat pemberitahuan. Maafkan saya, saya akan terus berusaha mengurangi masalah itu.

Pertunjukan berlangsung meriah, si Tengah dan si Sulung sangat menikmati. Perjalanan pulang pun tak mengalami satupun hambatan. Ketika baru mau mengayuh, HP saya berdering. Suara si Sulung di seberang sana. "Mama, terima kasih sudah disiapkan kue-kue. Mama, saya tidak nonton TV, tapi, nanti malam boleh ya, nonton Doraemon." "Ya, oke. Sebentar lagi Mama sampai, 30 menit lagi kira-kira. Hati-hati ya. Tak usah bukakan pintu kalau ada yang membunyikan bel." Lagi-lagi saya mesti mencari akal untuk menjaga si Bungsu, lebih-lebih si Tengah, untuk tidak sampai tertidur di perjalanan. Untunglah saya membawa beberapa makanan kecil, salah satunya Toppo, biskuit panjang seperti pensil berisi cokelat. Tangan mereka saya kira tidaklah kotor, karena dari tadi memang tak main pegang-pegang sesuatu. Si Tengah memegang satu bungkus kemasan Toppo, sambil kami melaju. Tiap kali Toppo di tangan si Bungsu habis, saya berhenti dan meminta stok tambahan dari penumpang belakang.
Sampai di rumah sudah jam empat. Si Sulung ternyata sudah salat, dan... : sudah mandi!
"Hebat sekali anak Mama ini, tak diberitahu pun sudah tahu apa yang perlu dikerjakan," saya menempelkan dua telapak tangan ke pipi, kalau "menerbangkannya" ke atas : artinya melayang, bahasa tubuh isyarat yang sering saya pakai ke anak-anak untuk memberitahu saya sangat gembira dengan prestasi mereka.

Usai salat, saya kejar lagi menyelesaikan PR Kumon. Demikian pula si Sulung. Sambil membaca deretan huruf-huruf keriting, saya disibukkan pula dengan pikiran : bagaimana cara saya ke Kumon? Kalau saya berangkat, tak mungkin tak membawa si Bungsu. Sudah seharian dia tidak tidur, sebentar lagi dia tentu mengantuk dan rewel. Berbahaya ditinggal hanya bersama dua kakaknya. Tapi kalau saya bawa, badan sudah terasa mau patah, sementara tempat Kumon itu berada di atas bukit, jalannya cukup terjal mendaki sejauh sekitar satu kilometer. Bersepeda sambil bonceng si Bungsu? Lebih tak masuk akal lagi, mana kuat. Bagaimana dengan si Bapak? Ohya, hari ini beliau ke Tokyo, jadi utusan kantor untuk melakukan perekrutan calon pegawai baru di mantan universitasnya dulu. Barangkali bisa pulang cepat. HP pun bekerja. Hasilnya : diajak melihat presentasi adik kelas oleh prof. Ya, sudah lama tak jumpa professornya yang baik itu, tentu saja sayang cepat-cepat pulang. Akhirnya saya minta si Sulung yang berangkat. Saya tuliskan sepucuk surat untuk gurunya, minta maaf sudah dua kali tidak hadir karena anggota keluarga bergantian sakit, dan PR saya dari 50 lembar hanya 20 yang berhasil saya selesaikan.
Jam sudah menunjukkan pukul 5.40 saat si Sulung siap berangkat. Topi dan jaket winter, syal, dan HP saya melengkapinya. Saya memintanya menelepon ke rumah kalau tak ada teman seperjalanan untuk pulang. Saya tetap tak berani membiarkannya berjalan sendirian di kegelapan malam.

"Carilah teman untuk bersama-sama pulang. Kalau bisa begitu, Mama akan senang sekali. Tapi kalau tidak ada, teleponlah ke rumah, supaya Mama jemput."

"Aaah, kalau begitu, saya pulang saja sendiri, daripada Mama repot."

"Mama lebih repot kalau ada apa-apa denganmu. Mama lebih suka capek daripada kamu pulang sendiri."

"Oke deh Ma."

Usai bersayonara dan mengunci pintu, segeralah saya salat magrib. Si Bungsu sudah mulai rewel, minta ganti popok. Usai salat, saya penuhi hajatnya itu. Saat ganti baju dan memakai popok, ia sudah minta pakai selimut juga. "Nanti tidurnya, makan malam dulu." Khawatir dia yang baru mulai sembuh dari diare, jadi sakit lagi karena tadi di tempat pertunjukan ada anak di dekat kami yang batuk-batuk dan bersin-bersin. Sementara dia juga kurang istirahat, sama sekali tidak pernah tidur sejak bangun jam empat subuh tadi.

Si Bungsu hanya bisa makan empat suap. Setelahnya betul-betul menolak dan minta gendong. Saya menyerah, sebelum dia ketiduran saya sikat dulu giginya. Si Tengah melanjutkan makan malamnya sendiri, tetapi sikat giginya pun sudah saya sediakan di samping piringnya, lengkap dengan pasta giginya.

Usai sikat gigi dengan segala triknya : berakting seolah-olah ada banyak binatang berlarian di antara gigi-gigi mungil itu : wang-wang (anjing), hebi (ular), burung, anakonda..."Hey, burung, jangan lari ke geraham belakang itu ya. Jangan suka ganggu gigi kecil ini. Pergilah ke koen sana, bersama teman-temanmu. Hora, lihat di sini, ada donat sembunyi. Awas ya donat, tidak bisa rusakin gigi Dede." Si Bungsu sangat senang dengan upacara sikat gigi dengan "permainan drama" seperti itu, senyum-senyum dan tawa tertahan dia membayangkan giginya jadi kebun binatang.Usai kumur-kumur, si Bungsu pun minta gendong, dan hanya semenit-dua menit, lelaplah ia. Saya pun bergegas membawanya ke kamar, merebahkan dan menyelimutinya. Karpet penghangat saya hidupkan.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.50. 10 menit lagi Kumon selesai. Saya segera menelepon HP saya yang dibawa si Sulung, hendak mengatakan bahwa saya akan menjemputnya. Saya begitu yakin si Bungsu akan terus lelap, paling tidak dalam satu jam. Kasihan si Sulung, dia juga masih dalam proses sembuh, dan tadi memang dia berharap saya menjemputnya dengan sepeda, ingin merasakan dibonceng di jalanan menurun pulangnya.

Telepon tidak diangkat. Saya takut menelepon lagi. Siapa tahu si Sulung sedang berjalan kaki pulang, dan dia memang tak percaya diri berbicara di HP di tempat umum sendirian. Benarlah, semenit kemudian, pintu depan berbunyi, hendak di buka. Si Sulung! Oh, selesailah urusan keluar rumah hari ini. Tinggal menyelesaikan makan malam si Sulung, menyikat gigi si Tengah, membereskan rumah, dan itu..., PR Kumon oleh-oleh dari sensei yang dititipkan lewat si Sulung, semestinya bisa saya selesaikan barang lima lembar sebelum merebahkan diri.

Wednesday, February 14, 2007

Kanto - Jepang Menyambut Maret


Chuujun bulan dua. Selain membagi hari-hari dalam satu bulan ke dalam satuan minggu, Jepang juga punya istilah lain. Mereka membaginya dalam satuan 10 hari. Sepuluh hari pertama disebut joujyun ( 上旬 / じょうじゅん ) , sepuluh hari pertengahan disebut chuujyun ( 中旬 / chuujyun ) dan sepuluh hari terakhir dengan gejyun ( 下旬 / げじゅん ).

Chuujyun Februari 2007 ini ditandai dengan mekarnya bunga Ume. Bunga yang mirip dengan sakura, hanya saja bentuknya lebih kecil dan berwarna putih. Selain itu, hujan juga mulai turun, pertanda Tuhan menyirami bibit-bibit tumbuhan yang sebelumnya berhibernasi melawan dingin untuk bersiap-siap melakukan pementasan meriah musim semi.

Suhu udara untuk wilayah Kanto (Tokyo, Kawasaki, Chiba, Saitama, Yokohama, setara dengan Jabotabek) berkisar diantara 5-15 derajat. Tidak lagi terlalu dingin, bila dibandingkan dengan suhu bulan Januari atau Desember, yang biasanya paling tinggi 10 derajat. Meskipun begitu, Jepang, khususnya wilayah Kanto ini, masih terbilang hangat di musim dingin dibandingkan Korea, China, Amerika bagian Utara, serta sebagian besar Eropa, yang biasa menikmati suhu sekitar nol derajat.

Seperti halnya hujan yang mengguyur bibit-bibit tanaman seperti melakukan persiapan awal pesta musim semi, toko-toko juga punya gaya yang sama. Pakaian musim dingin banyak yang diobral dengan potongan harga sampai 70%. Sementara itu, pakaian semi hangat untuk musim semi juga mulai disediakan, dengan harga yang masih 100%.

Begitulah di Jepang. Untuk mereka yang pas-pasan kantongnya, biasa berbelanja pakaian untuk satu tahun ke depan. Pakaian musim dingin dibeli tahun ini, di penghujung musim, untuk dipakai tahun depan. Nanti, di akhir musim panas, mereka juga tak melewatkan obral pakaian musim panas, meskipun musim gugur sudah di hadapan mata. Dibeli, untuk dipakai tahun depan.
120... 130... 140... Saya membolak-balik beberapa lembar rok di hadapan, membayangkan yang manakah ukuran yang cocok untuk si Sulung? Di Jepang, ukuran pakaian anak memakai patokan tinggi badan. 65, 70, 80, 90, 100, dan seterusnya. Jadi, bukan menurut usia. Cara yang brilian, bukan? Sebab, meski usia sama, tinggi anak tidak seragam.

Rok di tangah saya terbuat dari bahan jeans. Dengan panjang kira-kira 30cm. Bersusun tiga, berkerut-kerut. Dihiasi bintang-bintang berwarna perak, motif kesukaan si Sulung, yang berbeda 180 derajat dengan selera saya.
Beberapa waktu belakangan, saya agak sering mendengar si Sulung bergumam bahwa sekalipun ia tak pernah dibelikan rok. Selalu celana panjang. Saya tersenyum mendengar protes kecilnya itu.

Sewaktu dia masih balita, bukan tidak pernah ia memakai rok. Tapi, tentu saja ia tidak bisa mengingat itu. Seiring dengan bertambahnya usianya, sejak berusia empat atau lima tahun, saya memang jarang sekali memakaikannya setelan blus-rok.

Si Sulung anak yang sangat aktif. Tidak bisa diam. Di usia empat tahun, ia sudah bisa bergantungan di tiang melintang dan memutar badannya 360 derajat. Menurut guru Hoikuen (nursery)-nya, biasanya anak Jepang baru bisa melakukan gerak seperti itu di usia lima tahun. Lepas dari putar-memutar badan itu, si Sulung juga sangat suka panjat-panjatan. Bukan hanya mainan yang dibangun memang untuk melatih anak memanjat, tiang-tiang di pinggir jalan juga kadang jadi korban percobaannya. Sekarang dia sudah bisa naik sepeda roda satu, seperti pemain sirkus. Meskipun memang, anak-anak Jepang yang seusianya sudah mulai berlatih yang sama. Tetapi menurutnya, di kelasnya baru satu dua orang yang bisa. Kami sampai berpikir, barangkali si Sulung ini cocoknya jadi atlet olahraga. Bukan cuma gerak badan saja, saat duduk pun, posisinya lebih banyak mengangkang. Karena itulah, saya senantiasa memilih setelan baju - celana panjang, dan dengan sengaja tidak memilih rok.

Si Sulung sudah beranjak besar. Ia sudah bisa merasakan mana yang indah, cantik, feminin, bahkan mungkin, modis. Saya mengerti, teman-temannya di sekolah sangat banyak yang tampil cantik feminin dengan rok yang mengembang. Saya juga bisa mengerti hasratnya untuk merasakan berpakaian seperti itu.

Jadi, begitulah. Rok di tangan itu saya bawa ke kasir. Melengkapinya, juga saya sertakan satu celana pendek agak ketat berwarna hitam untuk dalamannya, ditambah kaos kaki tebal yang panjang sampai selutut. Dengan demikian, meski memakai rok, tidak perlu khawatir dingin ataupun malu bila tersingkap.

Saya mengayuh sepeda menembus malam yang mengantar dingin yang masih menggigit sambil membayangkan senyum mengembang si Sulung begitu melihat apa yang saya belikan. Untuk si Tengah, saya membelikan satu ikat pinggang untuk ke sekolah, karena dia juga pernah bilang, teman-temannya semua pakai ikat pinggang dan kelihatan sangat gagah. Untuk si Bungsu, ada satu lembar stiker timbul, mudah-mudahan dia cukup terhibur.

Ting tong, ting tong. Bel rumah berbunyi. Di balik pintu, Si Sulung berdiri menyambut dengan seragam tidurnya : piyama dibungkus "jaket" terusan yang berbentuk seperti kelinci berwarna pink.

"Mama, ada oleh-oleh?"

"Ada dong."

Betapa gembiranya si Sulung dan si Tengah. Mereka minta izin untuk mencobanya malam itu juga. Meskipun repot, mereka melepas semua atribut menjelang tidurnya, dan menggantinya dengan pakaian baru. Si Tengah mengganti celana piyamanya dengan celana panjang bepergian. Dengan susah payah dipasangnya ikat pinggangnya.

Si Sulung menari-nari seperti balerina. Si Tengah ribut dengan bajunya yang menggelembung menyebabkan ia susah melihat betapa gagah celananya berikat pinggang. Katanya, besok ke sekolah tak mau pakai sweater, atau kalaupun pakai, sweaternya dimasukkan ke dalam celana, agar ikat pinggangnya kelihatan.

Selanjutnya mereka minta izin tidur begitu saja. Saya bolehkan, dan berpesan, mimpilah jadi puteri dan pangeran.

Pagi pun tiba. Si Sulung minta ganti baju. Saya mengusulkan dia memakai rok itu saja ke sekolah, toh masih bersih. Si Sulung menolak. Katanya, ia hanya mau pakai di rumah. Saya terkejut. Bukannya dia ingin tampil feminin juga seperti teman-temannya yang lain? Saya anjurkan lagi dia pakai rok itu. Saya memang lagi malas mencarikan baju ganti yang lain.

"Tidak," jawabnya.

"Oh..., barangkali masih dingin, ya? Kalau begitu, nanti musim semi saja baru pakai ke sekolah."

"Tidak, Mama. Saya cuma mau pakai di rumah."

Ternyata, dia tetap merasa, celana panjang lebih baik daripada rok. Dia merasa jadi perempuan yang "nyeleneh" bila memakai rok seperti itu. Olala. Si Sulung hanya ingin merasakan memakainya. Sepertinya, moral soal berpakaian sudah merasuk dalam jiwanya. Terus terang, buat saya ini agak mengejutkan. Karena saya sendiri bisa dibilang tak pernah keuhkeuh memintanya secara vulgar untuk "menutup aurat", misalnya saja mesti sekalian pakai jilbab bila ke luar rumah dan sebagainya. Karena buat saya pribadi, pada usianya yang belum balig, yang lebih penting adalah proses memahamkan hakikat moral sebuah perintah, dan bukan semata-mata melaksanakan perintah itu begitu saja.

Tuesday, February 13, 2007

Catatan Sepintas Tentang Jepang

1. Mudah menemukan taman bermain umum, yang lazim disebut ko-en (taman kecil). Di koen, biasanya ada fasilitas tempat duduk, permainan anak berupa perosotan, ayunan, tempat bergantungan atau panjatan, kolam pasir. Selain itu, juga tersedia kran air minum sekaligus kran cuci tangan.

Semua sarana ini rutin dirawat oleh pemerintah lokal (kecamatan) ataupun penduduk setempat yang biasanya mengadakan kerja bakti kebersihan lingkungan minimal sebulan sekali. Kebetulan rumah kami tepat berhadapan dengan satu koen. Saya biasa menyaksikan bagaimana petugas kecamatan rutin memeriksa kondisi fasilitas koen. Pasir di kolam pasir diganti berkala, pohon yang terlalu lebat dipotong, rumput dipangkas, kualitas air kran diperiksa.

Mereka melakukan ini dengan gaya yang sangat profesional, dari memakai seragam pekerja, usia produktif (bukan melulu kakek-kakek), juga melakukan pemotretan dari berbagai sisi dengan kamera digital. Meski hujan ataupun panas, saya lihat mereka tetap mengerjakannya.

2. Pemilik toko berani menaruh barang dagangannya di luar toko tanpa pengawasan. Selain itu, kalau kita masuk toko, tidak bakalan ada petugas yang mengekori kita, apalagi dengan kasar segera membereskan barang yang sudah kita pegang.

3. Uang-uang kertas di Jepang biasanya sangat terawat. Agak sulit ditemukan uang yang lecek habis terlipat-lipat apalagi dikucek-kucek atau bahkan ditulisi.

4. Orang Jepang lebih banyak memakai sarana transportasi kereta dan sepeda. Ini menyebabkan polusi udara tidaklah banyak. Biasanya satu keluarga memiliki paling banyak satu mobil saja, mereka akan terheran-heran bila mengetahui di Indonesia, satu keluarga bisa memiliki dua-tiga mobil sekaligus. Ini karena mereka harus membayar parkir yang cukup mahal, sekitar Rp.600.000 perbulan permobil. Kalaupun mereka punya garasi sendiri, biasanya memang tidaklah besar, cukup untuk satu mobil. Nah, yang menarik adalah soal kepemilikan sepeda. Kalau ini, bisa satu anggota keluarga memiliki satu sepeda. Anak kecil dilatih sedini mungkin untuk bisa bersepeda.

5. Orang Jepang biasanya makan makanan yang segar. Seorang ibu rumah tangga biasanya memasak tiga jenis masakan berbeda untuk tiga kali waktu makan yang berbeda. Mereka juga sangat mengutamakan variasi makanan. Suatu waktu saya pernah dalam perawatan medis, dan saya diminta memakan 30 jenis bahan makanan dalam sehari! Tidak masuk akal? Masuk akal kok. Coba saja diurut : bawang bombay, bawang putih, pisang, tomat, bayam, wortel, kentang, ikan, cabe, merica, jinten, susu, keju, roti, brokoli, timun, ... Ya, semua memang dihitung!

6. Untuk pecahan mata uang, mereka punya sampai pecahan 1 yen. Sehingga, tidak ada namanya sistem pembulatan angka dalam transaksi dagang. Sepertinya, jarang sekali ada jenis uang baru. Hampir sembilan tahun tinggal di sini, jenis uang itu-itu saja, belum pernah berubah.

7. Taksi biasanya agak jual mahal. Bila kita memesan taksi, biasanya mereka akan bertanya tujuan kita. Setelah itu, mereka akan menolak bila kita mengubah rencana. Tempat duduknya ditutup dengan kain putih berenda, yang supirnya tak segan-segan memprotes bila jadi kotor karena sepatu anak-anak, misalnya. Mereka juga biasanya enggan mengangkut penumpang ibu hamil tua, takut melahirkan di taksi, barangkali. Pintunya terbuka dan tertutup otomatis. Harga kilometer pertama sekitar Rp40.0000. Untuk jarak sekitar tiga km, biasanya tarifnya sekitar Rp100.000. Kelihatannya jauh lebih mahal daripada taksi di Indonesia, tapi memang jauh lebih nyaman. Tidak hanya bagi penumpang, juga buat lingkungan : jarang yang kondisnya sampai sudah mengeluarkan asap polutan. Oya, supir taksinya juga biasanya pakai setelan jaz dan sarung tangan putih.

Menurut guru bahasa Jepang saya, hampir tidak ada kejahatan yang dimotori para supir taksi, seperti misalnya jadi perampok dan semacamnya. Mereka semua legal, dan memang menjadi supir taksi termasuk pekerjaan yang cukup baik dalam pandangan masyarakat. Saya pernah naik taksi, dan supir taksi mengatakan, dia melakukan pekerjaan tersebut karena ingin membeli binatang peliharaan berupa babi mini yang memang saat itu sedang jadi trend baru.

8. Hampir tidak ada anjing liar. Anjing peliharaan tiap hari dibawa jalan-jalan di sekitar tempat tinggal. Biasanya tuannya membawa skop dan kantong kecil, atau surat kabar. Tahu tidak, untuk apa? Untuk membawa pulang kotoran anjingnya, kalau b-a-b di luar. Saya dan seorang kawan India mengaku kaget melihat orang Jepang memungut kotoran anjingnya. Guru bahasa Jepang saya malah kaget mengetahui di negara kami, kotoran anjing dibiarkan begitu saja.